Custom Search

Selasa, 07 Agustus 2012

TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN

Ibnu Abbas RA adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Turjamaanul Quran (ahli menerjemahkan Al Quran). Dia sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah SAW dan pernah secara khusus di doakan Rasulullah SAW. Pada usia 9 tahun Ibnu Abbas RA telah hafal Al Quran dan telah menjadi Imam di masjid. Sejak kecil beliau telah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya untuk menuntut ilmu. Beragan gelar diraihnya seperti Fiqih al Ashr (ahli fikiq), Iman al Mufassirin (penghulu ahli tafsir) dan al bahr (lautan ilmu). Suara hari ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan di dunia. Ibnu Abbas RA menjawab, ada tujuh indikator kebahagian dunia itu. Yakni, pertama, hati yang selalu beryukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,” (QS al Mukminun (23) : 1). Kedua, pasangan hidup yang shaleh. Pasangan yang shaleh akan menciptakan suasana rumah tangga dan keluarga yang shaleh pula. Di akhirat kelak, seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawabannya dalam mengajak isteri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, isteri yang shalehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya. Ketiga, anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang anak Adam mati, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh, yang selalu mendoakan orang tuanya,” (HR Muslim). Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu mengendong ibunya yang uzur. “Apakah aku termasuk orang yang berbakti kepada orang tua ?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh, Allah ridha kepadamu, kamu anak yang shaleh, berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.” Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at Taubah (9) : 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabatlah dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan selalu menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang yang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan. Kelima, harta yang halal. Dalam Islam, kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa sembari mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus. Namun sayang, makan. minum, pakaian dan tempat tinggalmu didapat secara haram. Bagaimana doamu akan dikabulkan ?” Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya. Semakin tinggi cintanya kepada Allah dan RasulNYA. Cinta inilah yang akan memberi CAHAYA BAGI HATI-nya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya. Ketujuh, umur yang berkah. Semakin berumur, semakin shaleh, yang setiap detiknya di isi dengan amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan selalu sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Orang yang mengisi umurnya dengan ibadah dan amal kebajikan, semakin tua semakin rendah hati dan kalbunya untuk bertemu dengan sang Khalik, Allah SWT. (ustad erick yusuf,rc)

Artikel Menarik



0 komentar: